Selasa, 24 September 2013

GMO hewan

ali sejak awal tahun 1980-an. Bagian terbesar hewan yang telah sukses menjadi GMO adalah mencit, sebagai hewan pionir yang mula-mula dibuat. Akan tetapi saat ini telah berkembang ke jenis tikus, kelinci, domba, sapi dan babi. GMO hewan berpotensi berkontribusi pada kesejahteraan manusia melalui tiga kategori : (1) pertanian, (2) obat-obatan dan (3) industri.

Aplikasi di Bidang Pertanian
  1. Pengembangan bibit ternak (breeding)
            Petani ternak tiada hentinya menseleksi dan mengembangkan bibit ternak yang memiliki sifat-sifat unggul seperti menghasilkan air susu yang banyak, tumbuh cepat, memiliki rasio daging yang tinggi dan sebagainya. Bila untuk tujuan ini dikerjakan dengan cara pembibitan tradisional, banyak membuang waktu dan cukup sukar. Dengan berkembangnya ilmu rekayasa genetika dan biologi molekuler, memungkinkan menghasilkan tujuan ini dalam waktu yang lebih singkat dan lebih terarah.

  1. Perbaikan kualitas produk ternak
            Jaman modern ini banyak menuntut perbaikan kuantitas dan kualitas dari produk yang sudah ada, misalnya susu. Peternak menginginkan dapat memproduksi susu dalam jumlah yang meningkat, juga perbaikan kualitasnya untuk kesehatan, misalnya susu yang berkurang kandungan laktosa dan kholesterolnya. Untuk hewan pedaging, diinginkan yang dapat tinggi jumlah dagingnya di bagian karkas. Domba wool diinginkan lebih banyak menghasilkan bulu. Ada tanda-tanda GMO hewan dapat mampu memenuhi keperluan ini. Dulu untuk tujuan pembesaran hewan digunakan hormon pertumbuhan, akan tetapi cara ini bermasalah dengan adanya residu hormon tersebut pada daging hewan yang bersangkut.

  1. Ketahanan ternak terhadap penyakit
            Mengingat cukup banyaknya jenis penyakit yang berbahaya seperti anthrax, penyakit mulut dan kuku, flu burung dan sebagainya, maka ada usaha-usaha menciptakan sistem kekebalan pada ternak secara genetik. Sayang sekali masih sedikit jenis gen yang diketahui bertanggung jawab terhadap ketahanan hewan terhadap jenis-jenis penyakit ini.

Aplikasi di Bidang Kedokteran
  1. Transplantasi organ (Xenotransplantation)
            Banyak pasien meninggal karena tidak terpenuhinya transplantasi organ tubuh yang rusak seperti jantung, hati dan ginjal. Di UK saja diperlukan tidak kurang dari 5.000 organ tubuh setiap tahun. Disinyalir modifikasi genetik organ babi lebih cocok bagi manusia, hanya saja masih tersisa masalah adanya protein babi yang tertolak oleh tubuh manusia. Usaha-usaha untuk menghilangkan masalah ini, di mana protein babi yang bersangkutan diganti dengan protein manusia, sedang berlangsung.

  1. Suplementasi nutrisi dan produksi (Pharmaceuticals)
            Beberapa jenis zat farmasi seperti hormon pertumbuhan, insulin, faktor anti pembekuan darah, tissue plasminogen activator (t-PA), sekarang sudah bisa diproduksi bersama-sama air susu sapi, domba dan kambing. Maka air susu hewan-hewan tersebut mungkin berguna untuk memacu pertumbuhan anak lebih cepat, mengobati diabetes atau mempercepat penyembuhan luka. Susu dari GMO hewan juga sedang dalam penelitian untuk dapat mengobati penyakit-penyakit lain seperti phenylketonurea (PKU),emphysema yang menurun dan cystic fibrosis.
            Pada tahun 1997 pernah dihasilkan sapi transgenik yang diberi nama Rosie, yang air susunya menyerupai ASI. Susu Rosie tersebut mengandung alpha-lactalbuminmanusia pada kadar 2,4 g/liter. Seperti diketahui air susu sapi biasa bila diberikan pada bayi dapat menyebabkan perdarahan anus karena feces bayi yang mengeras (karena tidak sempurna dicerna oleh bayi).

  1. Terapi genetik pada manusia
            Terapi manusia adalah teknik menggantikan gen yang rusak pada genom dengan gen yang normal. Ada sekitar 5.000 jenis penyakit genetik yang berpotensi disembuhkan dengan teknik ini. Sebagai contoh, A.I Virtanen Institute di Finlandia menghasilkan zat yang merangsang pertumbuhan sel darah manusia.

Aplikasi di Bidang Industri
            Sebuah surprise pada tahun 2001 terjadi ketika dua ilmuwan pada Nexia Biotechnologies di Kanada memotong gen dari laba-laba dan mencangkoknya pada kambing yang sedang menyusui. Apa yang terjadi? Kambing itu mulai menghasilkan sutra dalam air susunya dan mengeluarkan benang-benang sutra yang halus pada sekujur badannya sehingga dapat terkumpul satu keranjang penuh. Dengan mengekstrak benang-benang polimer itu dari air susu dan memintalnya menjadi benang, ilmuwan tersebut dapat menghasilkan material yang lembut, alot dan fleksibel yang berguna untuk keperluan seragam militer, mikrostruktur kedokteran dan benang raket tenis.
            Hewan transgenik yang sensitive terhadap racun telah direkayasa untuk keperluan pengujian keamanan obat. Beberapa jenis enzim dengan aktivitas unggul telah dihasilkan untuk keperluan berbagai proses dengan reaksi enzimatik.

Masalah Etika dan atau Religi
            Telah kita jumpai berbagai manfaat yang sudah maupun akan diaplikasikan dari GMO hewan. Sekalipun demikian perimbangan aspek etika dan atau religi, rupanya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Beberapa masalah etika dan religi yang muncul ke permukaan antara lain pertanyaan-pertanyaan berikut :
-        Haruskah ada peraturan yang universal untuk proses transgenik?
-        Apakah peraturan tersebut menentukan bahwa hanya penelitian yang menjanjikan saja yang diperbolehkan?
-        Apakah prosedurnya harus selalu dibuat in vitro dulu untuk mengurangi penderitaan hewan?
-        Apakah GMO hewan akan sangat mempercepat proses evolusi yang dapat berdampak pada kondisi alam sekitar termasuk pada manusia?
-        Apakah paten diperbolehkan bagi GMO hewan, yang mungkin menghambat pertukaran informasi ilmiah di kalangan ilmuwan?
-        Apakah agama tidak berkeberatan untuk kasus perpindahan gen dari jenis makhluk yang “derajat”nya lebih tinggi, khususnya ke manusia? Atau termasuk juga perpindahan yang “turun derajat” (misalnya dari manusia ke hewan)?
-        Masalah kehalalan? Lihat uraian khusus.


Kehalalan produk GMO
            GMO hewan dari jenis hewan halal seperti ayam, bebek, kelinci, kambing, domba, rusa, sapi dan sebagainya, pada dasarnya adalah halal, kecuali bila gen asing yang disandangnya berasal dari hewan yang haram seperti babi, harimau, elang dan sebagainya, kemungkinan besar sekali dinyatakan haram oleh Komisi Fatwa. Kasus kekecualian ini yang sudah ada percobaannya adalah menggunakan gen dari babi. Genkimosin (enzim penggumpal susu) dari babi mungkin saja ditransfer ke kelinci sehingga untuk memperoleh penggumpal susu dalam pembuatan keju dapat menggunakan susu kelinci atau susu tikus putih. Demikian juga lipase yang cocok untuk proses pematangan keju, gennya mungkin diambil dari babi dan ditransfer ke hewan yang sama. Modifikasi lemak hewan yang halal seperti sapi, bisa juga dilakukan dengan mencangkok beberapa gen dari babi, untuk memperoleh lemak sapi dengan rasa lemak babi.
            Pada uraian tentang aplikasi di bidang kedokteran telah disebutkan kemungkinan aplikasi babi transgenik yang dapat membantu suplai organ tubuh manusia yang rusak. Akankah agama Islam memperbolehkannya? Kemungkinannya besar sekali tidak. Demikian pula kasus anak sapi yang “berdarah manusia”. Masalah yang lebih ringan  dari itu pun, yaitu kambing atau domba transgenik yang dapat menghasilkan susu dengan kadar t-PA yang tinggi (untuk mempercepat penyembuhan luka), tetapi gen t-PA nya berasal dari manusia, masih mengandung masalah etika-religi. Hal serupa untuk kasus susu kambing yang dapat menghasilkan insulin atau hormon pertumbuhan manusia (human growth hormone).
            Hal yang mungkin dapat ditolerir (tapi tidak terlepas dari pendapat Komisi Fatwa) adalah bila untuk kasus-kasus transfer gen yang tadinya berasal dari babi atau manusia itu, tidak diambil langsung dari babi atau manusia, tetapi disintesis duluin vitro oleh alat yang disebut DNA synthesizer, yang kemudian dicangkokkan ke hewan-hewan lain tadi. Kasus ini juga berlaku bagi aplikasi untuk GMO tanaman.

Kesimpulan
            Hal positif yang bisa disambut dari GMO hewan adalah percobaan-percobaan yang menyangkut aspek penggunaan hewan yang lebih kecil atau lebih rendah derajatnya untuk pengujian daya kerja obat. Contoh paling banyak untuk kasus ini adalah menyangkut terapi penyakit kanker. Rasanya lebih tega menggunakan hewan tikus putih atau mencit, ketimbang menggunakan kambing atau monyet.
            Beberapa teknologi lain untuk bidang kedokteran dan pharmaceuticals seperti darah manusia dari anak sapi, air susu yang mengandung insulin, t-PA, hormon pertumbuhan manusia, mengandung bibit perdebatan etika-religi.
            Akan tetapi dari uraian di atas juga dapat diambil beberapa contoh yang kiranya aman atau dapat “dibuat aman” dari aspek etika-religi sehingga dapat diterima, dan menyangkut bidang-bidang pertanian, kedokteran, obat-obatan dan industri.
Budiatman Satiawihardja
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan Auditor-Halal LPPOM-MUI
Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Kampus IPB Darmaga, Bogor
Email : budisat08@ipb.ac.id


Jurnal Halal No. 64/X/2006
 Dikutip oleh Andri E.P

memahami gmo

MEMAHAMI GMO DAN PERANANNYA UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MANUSIA (I)

6 Desember 2010 pukul 14:37
Akhir-akhir ini isu pro dan kontra pemakaian GMO (Genetically Modified Organisms) semakin menajam. Sebuah LSM pernah mengklaim bahwa GMO berbahaya bagi kesehatan manusia dan merusak lingkungan. Benarkah demikian? Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjawab secara pasti ya atau tidak, tetapi sekedar memberikan pemahaman apa itu GMO, manfaat yang dapat mereka berikan, dan mengapa menimbulkan berbagai isu negatif dibalik manfaat yang langsung bisa dirasakan, tentu saja tidak ketinggalan masalah kehalalannya. Adapun tentang bagaimana ia dibuat, kiranya kurang begitu penting bagi tujuan tulisan ini; kecuali apabila nanti ada permohonan dari pembaca, maka akan saya utarakan secara rinci.

Apakah itu GMO?
            GMO adalah organisme (dalam hal ini lebih ditekankan kepada tanaman dan hewan) yang telah mengalami modifikasi genome (rangkaian gen dalam chromosome) sebagai akibat ditransformasikannya satu atau lebih gen asing yang berasal dari organisme lain (dari species yang sama sampai divisio yang berbeda). Gen yang ditransformasikan diharapkan dapat mengeluarkan atau mengekspresikan suatu produk yang bermanfaat bagi manusia. Secara sederhana GMO adalah organisme (dalam hal ini tanaman atau hewan) yang dapat menghasilkan suatu zat yang asalnya zat tersebut tidak bisa atau tidak biasa dia buat dalam jumlah yang meningkat.
            Rekayasa GMO sudah dimulai sejak tahun 1970-an, diawali dengan aplikasinya pada tanaman sehingga sampai kini tidak kurang dari 30 juta ladang tanaman yang ditanami GMO.

GMO Tanaman
            Baiklah kita mulai dengan GMO tanaman. GMO tanaman dibuat dengan berbagai tujuan, antara lain : (1) untuk memperpanjang umur simpan produk tanaman, (2) ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit, (3) ketahanan terhadap lingkungan yang keras, (4) untuk meningkatkan kualitas produk dengan meningkatkan nilai nutrisi dan (5) untuk memperoleh produktivitas yang lebih tinggi melalui umur tanam yang lebih pendek atau produksi yang lebih tinggi. Tujuan-tujuan ini lebih aplikatif untuk kelompok tanaman pangan. Pada perkembangannya diarahkan juga pada tanaman obat (pharmacrops) yang ditujukan untuk menghasilkan obat-obatan (pharmaceuticals) dan bahan kimia untuk industri (industrial chemicals); akan tetapi untuk kelompok yang kedua ini belum ada yang sudah dikomersilkan. GMO tanaman pertama yang disetujui untuk dijual di Amerika adalah FlavrSavr tomato, yang bertujuan untuk memperoleh umur simpan yang lebih lama.
            Pada tahun 2003, jumlah tanaman transgenic atau GMO di Amerika Serikat mencapai 63% dari jumlah yang ada di dunia. Dari sejumlah itu 81% tanaman kedele, 73% tanaman kapas dan 40% tanaman jagung. Institusi yang bertanggung jawab untuk itu adalah USDAEPA dan FDA.
            Pada prinsipnya dalam dunia pertanian harus terpikirkan langkah-langkah yang dapat memenuhi kebutuhan utama untuk kelanggengan ketersediaan pangan. Teknologi rekayasa GMO, khususnya, digabung dengan pengembangan bidang lain, harus digunakan untuk meningkatkan produksi bahan pangan pokok, memperbaiki efisiensi produksi, mengurangi dampak negatif lingkungan, dan memberikan akses penyediaan pangan bagi petani kecil.

Jenis-jenis GMO Tanaman
            Dalam rangka memenuhi gagasan di atas, maka telah diciptakan berbagai jenis GMO tanaman yang dikelompokkan atas karakteristik khasnya sebagai berikut :
  1. Toleran terhadap biotik dan abiotik
Contoh yang termasuk kategori tahan faktor biotik misalnya padi yang tahan terhadap virus RYMV dengan teknik “imunisasi genetic” untuk jenis padi yang tumbuh di daerah sahara. Lainnya adalah tanaman pepaya yang tahan virus ring spot, tanaman kentang yang tahan hama blight. Di lain pihak contoh-contoh yang tahan faktor abiotik misalnya tanaman yang tahan aluminium pada jenis tanah asam, tahan kekeringan, tahan panas, tahan dingin dan yang tahan garam.

  1. Tanaman yang tahan insek dan herbisida
Tanaman yang tahan insek yang sudah banyak dikenal adalah yang mengandung gen dari bakteri Bacillus thuringiensis (gen Bt) yang dapat memproduksi protein yang dapat membunuh insek. Adapun tanaman yang tahan terhadap herbisida dibuat mengandung gen yang dapat menghasilkan inhibitor bagi enzim target dari suatu herbisida.

  1. Tanaman yang mengandung nilai gizi khusus
Contoh tanaman ini adalah “golden rice”, yaitu padi yang banyak mengandung likopen danbeta karoten. Padi yang banyak mengandung zat besi karena mengandung jenis protein yang dapat mengikat besi.

  1. Tanaman yang mengandung pharmaceutical
Sudah ada padi dan gandum yang dapat menghasilkan antibodi anti kanker, yang dapat mengenal sel-sel kanker paru-paru, kanker buah dada dan kanker usus, sehingga dapat diharapkan membantu diagnosa dan terapi dari jenis-jenis kanker tersebut. Tanaman yang dapat menghasilkan zat anti kanker vinblastin dan vincristine yang berguna dalam pengobatan penyakit limfoma Hodgkin.

  1. Tanaman yang mengurangi dampak negatif lingkungan
Beberapa jenis tanman memerlukan guludan yang tinggi. Guludan semacam ini mudah terancam erosi. Oleh sebab itu tanaman jenis ini harus dibuat tahan terhadap jenis penyakit akar, sehingga guludannya dapat dibuat tidak terlalu tingi.

Beberapa Isu Negatif dari GMO Tanaman
            Di balik banyak keuntungan yang mungkin diraih oleh GMO tanaman, agaknya terselubung juga beberapa isu negatifnya. Hal ini menyangkut masalah kesehatan konsumen dan lingkungan. Dapat disebutkan misalnya : peluang terbentuknya senyawa racun, protein (hasil ekspresi gen yang disisipkan) yang bersifat alergik atau allergen dan dampak tidak sengaja dari gen penanda (gen marker, untuk keperluan seleksi), yang biasanya suatu gen untuk tahan antibiotik tertentu seperti Kanamisin. Bila gen tahan antibiotik ini terekspresi, maka produk GMO bisa mengakibatkan konsumennya tahan terhadap antibiotik tersebut; sementara beberapa penyakit sering diobati oleh Kanamisin(misalnya infeksi-infeksi tulang, saluran pernafasan, usus, endocarditis, septicema). Ini berarti konsumennya tak dapat diobati dengan Kanamisin.
            Dari aspek lingkungan, adalah kekhawatiran produk dari gen tersebut dapat membunuh hewan lain atau gen-gen yang ditransfer ke tanaman target beralih secara tidak sengaja ke tanaman non-target, dan ini berdampak terganggunya ekosistem. Misalnya tanaman yang dapat menghasilkan insektisida (yang mengandung Bt) dapat membunuh beberapa jenis kupu-kupu atau serangga lain yang berguna dalam penyerbukan tanaman. Lalu tanaman yang punya sifat-sifat khusus terhadap lingkungan seperti tahan garam, tahan kekeringan, tahan panas dan sebagainya, bagaimana kalau sifat-sifat ini beralih ke bukan tanaman target? Tanaman liar yang mewarisi sifat-sifat ini dapat bersifat invasive sehingga berperan sebagai gulma.
            Sedikit mengembirakan, kekhawatiran akan berpindahnya transgen secara tak terkontrol disinyalir peluang terjadinya kecil, mengingat untuk terjadinya transfer gen tak sengaja, harus memenuhi persyaratan berikut :
-       Tanaman transgenik itu harus erat kekerabatannya dengan tanaman liar untuk terjadinya penyerbukan.
-       Tanaman liar dan tanaman transgenik harus berbunga pada waktu yang sama.
-       Tanaman liar dan tanaman transgenik harus secara genetik ada kecocokan (compatible).
-       Bila terjadi pembuahan, sang anak belum tentu hidup kalau lingkungan tidak mendukung.
-       Sang anak hasil pembuahan, belum tentu membawa transgen.
            Dampak-dampak negatif yang diuraikan di atas lebih lebih didasarkan pada peluang ilmiah ketimbang pada kenyataan terjadi. Akan tetapi perlu diakui juga beberapa insiden alergi karena mengkonsumsi GMO walaupun intensitasnya hampir tak nampak. Matinya sejumlah kupu-kupu cantik di wilayah perladangan yang ditanami tanaman mengandung gen Bt, merupakan peristiwa yang pernah terjadi secara nyata pula.

Masalah Kehalalan GMO Tanaman
            Dari aspek kehalalan, boleh dikatakan hampir tidak ada hal yang kritis, kecuali apabila gen yang ditransfer itu berasal dari hewan haram seperti babi (ini pun harus diperkuat oleh fatwa dari Komisi Fatwa MUI). Ini mungkin saja dibuat, apabila ada orang yang menginginkan gandum sebagai bahan roti misalnya, mengandung banyak enzim amylase, dengan tujuan roti yang dihasilkan dapat berasa manis tanpa penambahan gula. Maka dibuat tanaman transgenik gandum yang membawa gen amylase dari pankreas babi, misalnya gandum ini kemungkinan besar akan dinyatakan haram oleh Komisi Fatwa Haram MUI. Contoh lain mungkin saja tanaman singkong yang mengandung gen yang sama, agar umbinya banyak mengandung amylase, sehingga patinya dapat langsung diolah menjadi maltodekstrin.
Budiatman Satiawihardja
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan Auditor-Halal LPPOM-MUI
Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Kampus IPB Darmaga, Bogor
Email : budisat08@ipb.ac.id


Jurnal Halal No. 64/X/2006

Jumat, 20 September 2013

mcam-macam tumbuhan paku

Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berkormus dan berpembuluh yang paling sederhana. Terdapat lapisan pelindung sel (jaket steril) di sekeliling organ reproduksi, sistem transpor internal, hidup di tempat yang lembap. Akar serabut berupa rizoma, ujung akar dilindungi kaliptra. Sel-sel akar membentuk epidermis, korteks, dan silinder pusat (terdapat xilem dan fleom).

Batang tumbuhan paku tidak tampak karena terdapat di dalam tanah berupa rimpang, sangat pendek, ada juga yang dapat mencapai 5 meter seperti pada paku pohon atau paku tiang. Daun ketika masih muda melingkar dan menggulung. Beradasarkan bentuk dan ukurandan susunannya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi mikrofil dan makrofil. Mikrofil bentuk kecil atau bersisik, tidak bertangkai, tidak bertulang daun, belum memperlihatkan diferensiasi sel. Makrofil daun besar, bertangkai, bertulang daun, bercabang-cabang, sel telah terdiferensiasi. Berdasarkan fungsinya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi tropofil dan sporofil. Tropofil merupakan daun yang khusus untuk asimilasi atau fotosintesis. Sporofil berfungsi untuk menghasilkan spora.

Spora tumbuhan paku dibentuk dalam kotak spora (sporangium). Kumpulan sporangium disebut sorus. Sorus muda sering dilindungi oleh selaput yang disebut indusium. Berdasarkan macam spora yang dihasilkan tumbuhan paku dibedakan menjadi tiga yaitu paku homospora (isospora), paku heterospora dan paku peralihan. Paku homospora menghasilkan satu jenis spora (ex Lycopodium/paku kawat). Paku heterospora menghasilkan dua jenis spora yang berlainan yaitu megaspora (ukuran besar) dan mikrospora (ukuran kecil) (ex Marsilea/semanggi dan Selaginella/paku rane). Paku peralihan merupakan peralihan antara homospora dan heterospora menghasilkan spora pbentuk dan ukurannya sama tetapi berbeda jenis kelamin (ex Equisetum debile/paku ekor kuda).

Tumbuhan paku bereproduksi secara aseksual (vegetatif) dengan stolon yang menghasilkan gemma (tunas). Gemma adalah anakan pada tulang daun atau kaki daun yang mengandung spora. Reproduksi seksual (generatif) melalui pembentukan sel kelamin jantan/spermatozoid (gametangium jantan/anteridium) dan sel kelamin betina/ovum (gametangium betina/arkegonium). Seperti pada lumut tumbuhan paku juga mengalami pergiliran keturunan/metagenesis. Metagenesis tersebut dibedakan antara paku homospora dan heterospora.

Tumbuhan paku dibedakan menjadi empat kelompok yaitu Psilotophyta, Lycophyta, Sphenophyta, dan Pterophyta. Psilotophyta mempunyai dua genera (ex Psilotum sp). Psilotum sp tersebar luas di daerah tropik dan subtropik, mempunyai ranting dikotom, tidak memiliki akar dan daun, pengganti akar berupa rizoma diselubungi rambut-rambut yang dikenal rizoid.
Lycophyta contohnya


 Lycopodium sp

 dan Selaginella sp.
 Lycopodium sp sporanya dalam sporofit daun khusus untuk reproduksi dan dapat bertahan dalam tanah selama 9 tahun, dapat menghasilkan spora tunggal yang berkembang menjadi gametofit biseksual (memiliki baik organ jantan dan betina), jenis homospora. Selaginella sp merupakan tanaman heterospora, menghasilkan dua jenis spora (megaspora/gamet betina dan mikrospora/gamet jantan).

Sphenophyta sering disebut paku ekor kuda, bersifat homospora, mempunyai akar; batang; daun sejati, batangnya keras karena dinding sel mengandung silika. Contohnya
 Equisetum debile (paku ekor kuda).

Pterophyta (paku sejati) umumnya tumbuh di darat pada daerah tropis dan subtropis. Daunnya besar, daun muda menggulung. Sporangium terdapat pada sporofil (daun penghasil spora). Contohnya: Adiantum cuncatum (paku suplir untuk hiasan)
, Marsilea crenata (semanggi untuk sayuran),

 Asplenium nidus (paku sarang burung),
 
Pletycerium bifurcatum (paku tanduk rusa)