MEMAHAMI GMO DAN PERANANNYA UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MANUSIA (I)
Akhir-akhir ini isu pro dan kontra pemakaian GMO (Genetically Modified Organisms) semakin menajam. Sebuah LSM pernah mengklaim bahwa GMO berbahaya bagi kesehatan manusia dan merusak lingkungan. Benarkah demikian? Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjawab secara pasti ya atau tidak, tetapi sekedar memberikan pemahaman apa itu GMO, manfaat yang dapat mereka berikan, dan mengapa menimbulkan berbagai isu negatif dibalik manfaat yang langsung bisa dirasakan, tentu saja tidak ketinggalan masalah kehalalannya. Adapun tentang bagaimana ia dibuat, kiranya kurang begitu penting bagi tujuan tulisan ini; kecuali apabila nanti ada permohonan dari pembaca, maka akan saya utarakan secara rinci.
Apakah itu GMO?
GMO adalah organisme (dalam hal ini lebih ditekankan kepada tanaman dan hewan) yang telah mengalami modifikasi genome (rangkaian gen dalam chromosome) sebagai akibat ditransformasikannya satu atau lebih gen asing yang berasal dari organisme lain (dari species yang sama sampai divisio yang berbeda). Gen yang ditransformasikan diharapkan dapat mengeluarkan atau mengekspresikan suatu produk yang bermanfaat bagi manusia. Secara sederhana GMO adalah organisme (dalam hal ini tanaman atau hewan) yang dapat menghasilkan suatu zat yang asalnya zat tersebut tidak bisa atau tidak biasa dia buat dalam jumlah yang meningkat.
Rekayasa GMO sudah dimulai sejak tahun 1970-an, diawali dengan aplikasinya pada tanaman sehingga sampai kini tidak kurang dari 30 juta ladang tanaman yang ditanami GMO.
GMO Tanaman
Baiklah kita mulai dengan GMO tanaman. GMO tanaman dibuat dengan berbagai tujuan, antara lain : (1) untuk memperpanjang umur simpan produk tanaman, (2) ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit, (3) ketahanan terhadap lingkungan yang keras, (4) untuk meningkatkan kualitas produk dengan meningkatkan nilai nutrisi dan (5) untuk memperoleh produktivitas yang lebih tinggi melalui umur tanam yang lebih pendek atau produksi yang lebih tinggi. Tujuan-tujuan ini lebih aplikatif untuk kelompok tanaman pangan. Pada perkembangannya diarahkan juga pada tanaman obat (pharmacrops) yang ditujukan untuk menghasilkan obat-obatan (pharmaceuticals) dan bahan kimia untuk industri (industrial chemicals); akan tetapi untuk kelompok yang kedua ini belum ada yang sudah dikomersilkan. GMO tanaman pertama yang disetujui untuk dijual di Amerika adalah FlavrSavr tomato, yang bertujuan untuk memperoleh umur simpan yang lebih lama.
Pada tahun 2003, jumlah tanaman transgenic atau GMO di Amerika Serikat mencapai 63% dari jumlah yang ada di dunia. Dari sejumlah itu 81% tanaman kedele, 73% tanaman kapas dan 40% tanaman jagung. Institusi yang bertanggung jawab untuk itu adalah USDA, EPA dan FDA.
Pada prinsipnya dalam dunia pertanian harus terpikirkan langkah-langkah yang dapat memenuhi kebutuhan utama untuk kelanggengan ketersediaan pangan. Teknologi rekayasa GMO, khususnya, digabung dengan pengembangan bidang lain, harus digunakan untuk meningkatkan produksi bahan pangan pokok, memperbaiki efisiensi produksi, mengurangi dampak negatif lingkungan, dan memberikan akses penyediaan pangan bagi petani kecil.
Jenis-jenis GMO Tanaman
Dalam rangka memenuhi gagasan di atas, maka telah diciptakan berbagai jenis GMO tanaman yang dikelompokkan atas karakteristik khasnya sebagai berikut :
Beberapa Isu Negatif dari GMO Tanaman
Di balik banyak keuntungan yang mungkin diraih oleh GMO tanaman, agaknya terselubung juga beberapa isu negatifnya. Hal ini menyangkut masalah kesehatan konsumen dan lingkungan. Dapat disebutkan misalnya : peluang terbentuknya senyawa racun, protein (hasil ekspresi gen yang disisipkan) yang bersifat alergik atau allergen dan dampak tidak sengaja dari gen penanda (gen marker, untuk keperluan seleksi), yang biasanya suatu gen untuk tahan antibiotik tertentu seperti Kanamisin. Bila gen tahan antibiotik ini terekspresi, maka produk GMO bisa mengakibatkan konsumennya tahan terhadap antibiotik tersebut; sementara beberapa penyakit sering diobati oleh Kanamisin(misalnya infeksi-infeksi tulang, saluran pernafasan, usus, endocarditis, septicema). Ini berarti konsumennya tak dapat diobati dengan Kanamisin.
Dari aspek lingkungan, adalah kekhawatiran produk dari gen tersebut dapat membunuh hewan lain atau gen-gen yang ditransfer ke tanaman target beralih secara tidak sengaja ke tanaman non-target, dan ini berdampak terganggunya ekosistem. Misalnya tanaman yang dapat menghasilkan insektisida (yang mengandung Bt) dapat membunuh beberapa jenis kupu-kupu atau serangga lain yang berguna dalam penyerbukan tanaman. Lalu tanaman yang punya sifat-sifat khusus terhadap lingkungan seperti tahan garam, tahan kekeringan, tahan panas dan sebagainya, bagaimana kalau sifat-sifat ini beralih ke bukan tanaman target? Tanaman liar yang mewarisi sifat-sifat ini dapat bersifat invasive sehingga berperan sebagai gulma.
Sedikit mengembirakan, kekhawatiran akan berpindahnya transgen secara tak terkontrol disinyalir peluang terjadinya kecil, mengingat untuk terjadinya transfer gen tak sengaja, harus memenuhi persyaratan berikut :
- Tanaman transgenik itu harus erat kekerabatannya dengan tanaman liar untuk terjadinya penyerbukan.
- Tanaman liar dan tanaman transgenik harus berbunga pada waktu yang sama.
- Tanaman liar dan tanaman transgenik harus secara genetik ada kecocokan (compatible).
- Bila terjadi pembuahan, sang anak belum tentu hidup kalau lingkungan tidak mendukung.
- Sang anak hasil pembuahan, belum tentu membawa transgen.
Dampak-dampak negatif yang diuraikan di atas lebih lebih didasarkan pada peluang ilmiah ketimbang pada kenyataan terjadi. Akan tetapi perlu diakui juga beberapa insiden alergi karena mengkonsumsi GMO walaupun intensitasnya hampir tak nampak. Matinya sejumlah kupu-kupu cantik di wilayah perladangan yang ditanami tanaman mengandung gen Bt, merupakan peristiwa yang pernah terjadi secara nyata pula.
Masalah Kehalalan GMO Tanaman
Dari aspek kehalalan, boleh dikatakan hampir tidak ada hal yang kritis, kecuali apabila gen yang ditransfer itu berasal dari hewan haram seperti babi (ini pun harus diperkuat oleh fatwa dari Komisi Fatwa MUI). Ini mungkin saja dibuat, apabila ada orang yang menginginkan gandum sebagai bahan roti misalnya, mengandung banyak enzim amylase, dengan tujuan roti yang dihasilkan dapat berasa manis tanpa penambahan gula. Maka dibuat tanaman transgenik gandum yang membawa gen amylase dari pankreas babi, misalnya gandum ini kemungkinan besar akan dinyatakan haram oleh Komisi Fatwa Haram MUI. Contoh lain mungkin saja tanaman singkong yang mengandung gen yang sama, agar umbinya banyak mengandung amylase, sehingga patinya dapat langsung diolah menjadi maltodekstrin.
Budiatman Satiawihardja
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan Auditor-Halal LPPOM-MUI
Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Kampus IPB Darmaga, Bogor
Email : budisat08@ipb.ac.id
Jurnal Halal No. 64/X/2006

Apakah itu GMO?
GMO adalah organisme (dalam hal ini lebih ditekankan kepada tanaman dan hewan) yang telah mengalami modifikasi genome (rangkaian gen dalam chromosome) sebagai akibat ditransformasikannya satu atau lebih gen asing yang berasal dari organisme lain (dari species yang sama sampai divisio yang berbeda). Gen yang ditransformasikan diharapkan dapat mengeluarkan atau mengekspresikan suatu produk yang bermanfaat bagi manusia. Secara sederhana GMO adalah organisme (dalam hal ini tanaman atau hewan) yang dapat menghasilkan suatu zat yang asalnya zat tersebut tidak bisa atau tidak biasa dia buat dalam jumlah yang meningkat.
Rekayasa GMO sudah dimulai sejak tahun 1970-an, diawali dengan aplikasinya pada tanaman sehingga sampai kini tidak kurang dari 30 juta ladang tanaman yang ditanami GMO.
GMO Tanaman
Baiklah kita mulai dengan GMO tanaman. GMO tanaman dibuat dengan berbagai tujuan, antara lain : (1) untuk memperpanjang umur simpan produk tanaman, (2) ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit, (3) ketahanan terhadap lingkungan yang keras, (4) untuk meningkatkan kualitas produk dengan meningkatkan nilai nutrisi dan (5) untuk memperoleh produktivitas yang lebih tinggi melalui umur tanam yang lebih pendek atau produksi yang lebih tinggi. Tujuan-tujuan ini lebih aplikatif untuk kelompok tanaman pangan. Pada perkembangannya diarahkan juga pada tanaman obat (pharmacrops) yang ditujukan untuk menghasilkan obat-obatan (pharmaceuticals) dan bahan kimia untuk industri (industrial chemicals); akan tetapi untuk kelompok yang kedua ini belum ada yang sudah dikomersilkan. GMO tanaman pertama yang disetujui untuk dijual di Amerika adalah FlavrSavr tomato, yang bertujuan untuk memperoleh umur simpan yang lebih lama.
Pada tahun 2003, jumlah tanaman transgenic atau GMO di Amerika Serikat mencapai 63% dari jumlah yang ada di dunia. Dari sejumlah itu 81% tanaman kedele, 73% tanaman kapas dan 40% tanaman jagung. Institusi yang bertanggung jawab untuk itu adalah USDA, EPA dan FDA.
Pada prinsipnya dalam dunia pertanian harus terpikirkan langkah-langkah yang dapat memenuhi kebutuhan utama untuk kelanggengan ketersediaan pangan. Teknologi rekayasa GMO, khususnya, digabung dengan pengembangan bidang lain, harus digunakan untuk meningkatkan produksi bahan pangan pokok, memperbaiki efisiensi produksi, mengurangi dampak negatif lingkungan, dan memberikan akses penyediaan pangan bagi petani kecil.
Jenis-jenis GMO Tanaman
Dalam rangka memenuhi gagasan di atas, maka telah diciptakan berbagai jenis GMO tanaman yang dikelompokkan atas karakteristik khasnya sebagai berikut :
- Toleran terhadap biotik dan abiotik
- Tanaman yang tahan insek dan herbisida
- Tanaman yang mengandung nilai gizi khusus
- Tanaman yang mengandung pharmaceutical
- Tanaman yang mengurangi dampak negatif lingkungan
Beberapa Isu Negatif dari GMO Tanaman
Di balik banyak keuntungan yang mungkin diraih oleh GMO tanaman, agaknya terselubung juga beberapa isu negatifnya. Hal ini menyangkut masalah kesehatan konsumen dan lingkungan. Dapat disebutkan misalnya : peluang terbentuknya senyawa racun, protein (hasil ekspresi gen yang disisipkan) yang bersifat alergik atau allergen dan dampak tidak sengaja dari gen penanda (gen marker, untuk keperluan seleksi), yang biasanya suatu gen untuk tahan antibiotik tertentu seperti Kanamisin. Bila gen tahan antibiotik ini terekspresi, maka produk GMO bisa mengakibatkan konsumennya tahan terhadap antibiotik tersebut; sementara beberapa penyakit sering diobati oleh Kanamisin(misalnya infeksi-infeksi tulang, saluran pernafasan, usus, endocarditis, septicema). Ini berarti konsumennya tak dapat diobati dengan Kanamisin.
Dari aspek lingkungan, adalah kekhawatiran produk dari gen tersebut dapat membunuh hewan lain atau gen-gen yang ditransfer ke tanaman target beralih secara tidak sengaja ke tanaman non-target, dan ini berdampak terganggunya ekosistem. Misalnya tanaman yang dapat menghasilkan insektisida (yang mengandung Bt) dapat membunuh beberapa jenis kupu-kupu atau serangga lain yang berguna dalam penyerbukan tanaman. Lalu tanaman yang punya sifat-sifat khusus terhadap lingkungan seperti tahan garam, tahan kekeringan, tahan panas dan sebagainya, bagaimana kalau sifat-sifat ini beralih ke bukan tanaman target? Tanaman liar yang mewarisi sifat-sifat ini dapat bersifat invasive sehingga berperan sebagai gulma.
Sedikit mengembirakan, kekhawatiran akan berpindahnya transgen secara tak terkontrol disinyalir peluang terjadinya kecil, mengingat untuk terjadinya transfer gen tak sengaja, harus memenuhi persyaratan berikut :
- Tanaman transgenik itu harus erat kekerabatannya dengan tanaman liar untuk terjadinya penyerbukan.
- Tanaman liar dan tanaman transgenik harus berbunga pada waktu yang sama.
- Tanaman liar dan tanaman transgenik harus secara genetik ada kecocokan (compatible).
- Bila terjadi pembuahan, sang anak belum tentu hidup kalau lingkungan tidak mendukung.
- Sang anak hasil pembuahan, belum tentu membawa transgen.
Dampak-dampak negatif yang diuraikan di atas lebih lebih didasarkan pada peluang ilmiah ketimbang pada kenyataan terjadi. Akan tetapi perlu diakui juga beberapa insiden alergi karena mengkonsumsi GMO walaupun intensitasnya hampir tak nampak. Matinya sejumlah kupu-kupu cantik di wilayah perladangan yang ditanami tanaman mengandung gen Bt, merupakan peristiwa yang pernah terjadi secara nyata pula.
Masalah Kehalalan GMO Tanaman
Dari aspek kehalalan, boleh dikatakan hampir tidak ada hal yang kritis, kecuali apabila gen yang ditransfer itu berasal dari hewan haram seperti babi (ini pun harus diperkuat oleh fatwa dari Komisi Fatwa MUI). Ini mungkin saja dibuat, apabila ada orang yang menginginkan gandum sebagai bahan roti misalnya, mengandung banyak enzim amylase, dengan tujuan roti yang dihasilkan dapat berasa manis tanpa penambahan gula. Maka dibuat tanaman transgenik gandum yang membawa gen amylase dari pankreas babi, misalnya gandum ini kemungkinan besar akan dinyatakan haram oleh Komisi Fatwa Haram MUI. Contoh lain mungkin saja tanaman singkong yang mengandung gen yang sama, agar umbinya banyak mengandung amylase, sehingga patinya dapat langsung diolah menjadi maltodekstrin.
Budiatman Satiawihardja
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan Auditor-Halal LPPOM-MUI
Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Kampus IPB Darmaga, Bogor
Email : budisat08@ipb.ac.id
Jurnal Halal No. 64/X/2006

Tidak ada komentar:
Posting Komentar